Hpku berbunyi tanda SMS masuk. Pesan singkat dari seorang teman yang memprovokasi aku agar jangan melewatkan Barelang sebelum pulang. Di hari ketiga kami berlima bergerak meninggalkan PIH dengan tujuan pulau Galang dengan jarak sekitar 80 km. Pulau Galang adalah pulau (besar) yang ketiga yang terhubung dengan pulau Rempang dan pulau Batam melalui jembatan. Di pulau ini pula para pengungsi Vietnam ditampung pada saat negeri mereka dilanda peperangan.
Sebenarnya jembatan yang menghubungkannya tidak langsung pada pulau-pulau tersebut, tetapi ada pula yang terhubung lebih dahulu dengan pulau kecil yang ada di antaranya. Contohnya jembatan Barelang 1 (yang bertiang dan kabel), jembatan ini menghubungkan pulau Batam dengan pulau Ponpon, selanjutnya terhubung lagi dengan jembatan 2 ke pulau Rempang. Jembatan 2 sampai 5 seperti halnya jembatan biasa, yang menjadikan luarbiasa adalah jembatan ini melintasi laut bukan sungai. Jangan lupa pula bahwa jembatan ini adalah karya kebanggaan anak-anak negeri. Jadi jembatan Barelang itu menyambung pulau BAtam, REmpang dan GaLANG ke dalam satu rangkaian.
Jalan yang kami lewati sangat mulus. Perjalanan sekitar 1,5 jam tidak membosankan karena disuguhi pemandangan khas. Pepohonan yang segan tumbuh dan semak-semak, serta lahan bertanah kapur yang sudah dikapling-kapling menjadi milik perusahaan tertentu tersebar di sepanjang jalan. Fasilitas jalan ini dibangun pada saat pak Habibie menjadi kepala Otorita Batam.
Sampai di pulau Galang kami disuguhi pemandangan perkebunan buah naga. Namun sayang tidak sedang musimnya sehingga tampak pepohonannya saya yang seperti pohon kaktus. Perumahan penduduk jarang ditemui. Tak terbayang bagaimana jadinya bila dalam perjalanan malam kendaraan mengalami pecah ban atau kehabisan bensin...